Malam ini Dia menghampiri lagi, tangannya memilah-milah deretan amal yang bertengger di dalam etalase, menghitung satu demi satu tanpa melewatkan sedikit pun celah kecil berlapis di sela-sela.

Dia lalu menoleh ke arahku, “Hari ini ada yang tak terisi?” tanyanya dengan nada serupa menerka, alih-alih kutahu ia paling paham soal semuanya. Jawabku, “Ya,” seraya angguk kepala.

Dia terdiam agak lama, barangkali kecewa. “Kosong berapa?” tanyanya.

“Kosong, dua,” tuturku.

Terdengar tarikan napas panjang, “Sengaja? Atau tidak sengaja?” tanyanya, sembari melihat-lihat catatan perhitungannya bahwa kemarin aku sukses memenuhi lima waktu.

Kepalaku kian menekuk dalam, “Sengaja ….” ujarku pelan.

Dia membuka lebar telapak tangannya, cahaya terpancar meluas dari sana hingga mataku menyipit erat terbuka, terbentang rahmat yang teramat panjang sampai-sampai tak kuketahui mana ujung-ujung sumbunya, terlalu terang dan luas hingga semua tampak gelap seketika.

Aku tidak tahu berikutnya apa, yang jelas wajahku kini basah semua—entah dilumuri air mata atau dosa, aku tak tahu yang mana. Pun Dia menghilang dari tempat nya semula. Ke mana?

Kucari Dia lewat serpih rahmat yang tersingkir dari luas telapak nya, satu dua puing silih berganti kuangkat. Kemilau kembali tampak, kulihat muara asalnya, muncul dari hatiku yang merebak. Ya, dari hati hamba yang ibadahnya kosong dua.