1000451314.jpg

Aku menempatkan diriku dalam posisi paling rendah ketika sebuah tanya meluncur dari kekosongan yang mengisi relung hatiku entah sedari kapan bermula, mempertanyakan kembali pertanyaan dari salah seorang temanku apakah cinta adalah kebutuhan atau keinginan dari tiap makhluk di dunia, untuk kian mundur dan beralih pertanyaan lewat untaian kalimat berupa, “Kenapa cinta harus lahir di dunia?”

Barangkali kau mengira aku terpuruk akibat kecewa. Tetapi tidak, sebelumnya tak seorang pun berlaku sesuatu hingga aku pantas dikotakkan dalam kategori kecewa. Atau barangkali kau menyebutku membawa trauma. Tetapi tidak juga, atau barangkali memang iya, tetapi pertanyaanku tak begitu saja tergantung semudah membawa luka lama. Kurasa, memang hatiku telah tertutup terlalu lama.

Manusia berbondong-bondong berbagi cinta kepada seseorang yang mereka anggap berharga. Bentuknya bisa bagaimana saja. Terkadang lewat kotak makan yang tiba-tiba terselip di dalam tas sebelum pergi berkutat dengan perkara dunia, terkadang lewat kiriman uang atau makanan di tengah padatnya kesibukan yang mendera, terkadang lewat buah yang terkupas utuh di atas meja, atau hal lainnya berdasarkan perasaan yang tertampik dalam relung kalbu manusia.

Bentuk perasaannya pun beragam. Sekali waktu menggebu-gebu sampai mata enggan terpejam semalaman penuh, sekali waktu buat bibir terkekeh pada perihal remeh yang sama sekali tak lucu, sekali waktu buat mata menitikkan air kala tersadar bahwa cinta yang muncul tak terbilang hingga tumpah-ruah melampaui batas yang dulu-dulu coba ditakar lewat taruh.

Tetapi, seolah tak berpusat pada yang baiknya saja, cinta membawa aspek lainnya, serupa dengan resiko atas segala persoalan yang manusia tentukan melalui pilihan mereka, menjadikan hal paling tulus sebagai pilihan yang tetap perlu pertanggungjawaban bertajuk komitmen nyata.

Lalu, nanti tanpa sadar manusia akan memikul beban dari berbagi rasa bernama cinta. Ironisnya, terkadang bentuk pertanggungjawaban nya berbuah serangan luka, sadar atau tak sadar, separuh atau utuh. Dan aku akan kembali pada hari di mana aku menimbang lagi jawaban atas pertanyaan temanku sebelumnya, apakah cinta adalah kebutuhan atau semata-mata hanya keinginan kita yang mengisi semesta? Lantas waktu bergulir dan hatiku akan bersuara, kenapa kita perlu berbagi cinta di dunia kalau pada akhirnya juga menoreh luka pada mereka yang kita jaga?

Pada tiap luka yang terukir dan tersimpan, faktanya tak semua dapat terhapus atau sekadar termaafkan. Setelah berangsur beberapa waktu, bisa jadi seseorang butuh pelipur duka yang menjadi tangan-kaki untuk menopang dirinya pasca tersakiti oleh cinta yang pernah diterimanya. Barangkali sejak saat itu, pelipur duka merupakan komitmen nyata akan cinta terhadap dirinya sendiri.

Pada pagi hari di mana aku terbangun dari kasur kamarku, aku mencicip kenyataan bahwa cinta bersemayam di tiap sudut kamarku, kecuali pada rongga hatiku. Ibu merawat kamarku tiap aku kembali berkutat dengan dunia perkuliahan di kota seberang. Begitu lah cinta bekerja, berputar seirama rotasi isi kamarku yang diperbarui susunannya setiap bulan, berbalas dengan rasa terima kasih yang sejak terawatnya kamarku merupakan komitmen nyata dari cinta.

Maka malam harinya kutarik selimut di ujung kaki, mencoba menarik kesimpulan dari carut-marutnya isi kepalaku sejak catatan ini tertulis di aplikasi, tentang fakta ironis bahwa bisa jadi hal-hal yang menyakitkan sedari awal sudah harus terjadi, sebab hal paling tulus pun punya celah tersendiri untuk tak berdiri sempurna sendiri.

Tapi fakta ironis yang menyajikan hal manis tersebut tetap menyisakan pertanyaan yang menggerayangi kasur tempatku tidur*,* karena kalau memang begitu, cukup menyedihkan menyadari kenyataan untuk kemudian mengajukan pertanyaan, kenapa kita malah bermudah-mudahan (dan dipermudah) berbagi rasa cinta kepada sesama?


23 Agustus 2026, dengan cinta yang kupertanyakan kebenaran eksistensinya.