Hadir di lingkungan baru di mana bertemu banyak lawan jenis itu berat, terlebih dulu-dulu aku cuma punya perempuan sebagai pilihan yang bisa dijadikan sejawat. Sulit sekali meyakinkan diri sendiri soal ‘kalau kau suka melihat dia, itu cuma kagum semata!’ sebab jejemariku malah berontak mengitari seisi akun Instagram siapa-yang-aku-suka-melihatnya. Masalah lebih besarnya, melihatnya berkeliaran di kampus itu hal yang langka. Namun, barangkali ini ada baiknya karena bisa jadi ini merupakan bentuk penjagaan untukku dari Allah ta’ala. Kalau dipikir-pikir, sejujurnya malu juga, ya, dengan lantang berbicara di tulisan yang makna nya tersirat begini.

Oi, Bang, cerita lah soal wanita—supaya pupus harap-harap yang telah aku bangun dalam kepala, supaya bisa aku tahu siapa wanita keren itu yang kau suka.

Kendati saat mendapatimu bercerita kelak, barangkali aku akan terhenyak—sebentar, kayaknya aku belum siap, deh! Tapi ada bagus nya juga, kan? Aku jadi paham caranya membuat batasan, paham juga caranya mengerti apa arti sebenarnya dari suatu perasaan, dan paham juga kalau tidak baik membiarkan kagum kian membesar tiap ada kesempatan.

Hari-hari terus berjalan, kulihat memang tak akan ada perkembangan. Aku tetap orang biasa, kamu tetap jadi sosok yang aku suka—entah apanya, mungkin kebaikannya? Setahun dua tahun lagi, mungkin aku akan geli sendiri membaca tulisan ini. Kok bisa enggak malu tulis hal alay dan enggak sadar sama perasaanku sendiri? Siapa yang punya hati, kenapa pakai bingung segala setiap hari?

Katanya, dalam meraih sukses dan jaya, jangan tumpah ruahkan soal asmara—nanti bisa ganggu tujuan awal kita. Tetapi, salah, tidak, ya, kalau kadangkala aku minta Tuhan pertemukan kita, dalam suatu yang tidak sengaja. Kota tempat kita tinggal masih sama, padepokannya pun rentet bersinggungan bak kursi-kursi di taman kota, meski tidak sedekat baris-berbaris anggota paskibra. Sudah begini, kenapa mau melihatmu jalan-jalan di sore hari kenapa sulit sekali?

Memang kamu enggak suka jalan-jalan sore hari? Atau, kamu suka kalau jalan-jalan nya bareng teman dekatmu saja? Oh, iya, kamu pernah, enggak, sih, jadi anggota paskibra? Ah, kapan, ya, bisa tanya-tanya hal remeh begitu dengan leluasa? Kalau taman kota, sudah berapa kali kamu singgahi rerumputannya untuk diajak bicara? Oh, atau yang suka ajak bicara makhluk lain tak sejenis cuma aku saja? Kamu harus coba juga. Enak, loh, bercerita sama mereka—kamu enggak akan dihakimi, bonusnya Tuhan ikut dengar maumu apa. Tapi, memang tidak semua dikabulkan Tuhan, kayaknya itu semacam bentuk penjagaan, seperti sekarang saat aku dalam posisi kendati hanya ingin melihatnya. Tidak lebih, tidak kurang.

Hari ini mata kuliahnya filsafat manusia, kemarin aku ditegur dosen karena kurang baik dalam menyampaikan materi dari handout buatannya. Tiap aku mengeluh perihal filsafat, dia tidak pernah menjawab. Apa kesukaannya filsafat? Soalnya kudengar dari temannya ia dua kali menggaet IP empat. Hebat. Alih-alih hanya persepsi sendiri, Tuhan, dia tetap hebat. Dan alih-alih ingin remehku itu jadi harap yang besar, jikalau merupakan bentuk penjagaan-Mu Yanh Maha Penyayang—terima kasih banyak, ya, Tuhan. Juga pada perasaan kagum yang Engkau beri kepada kalbu, juga kepada eksistensinya yang mondar-mandir di sekitarku tapi tak dapat dijangkau oleh netraku.