But I'm begging, for someone looking at me so their hand can put me from these broken pieces.


1000476328.jpg

Bisa kau bayangkan sosok seperti apa aku, selayaknya tokoh figuran yang berjalan di tengah cerita dan tak teringat kehadirannya, sekilas mengisi kekosongan ruangan untuk menciptakan percakapan intens bagi pemeran utama, lantas lenyap beriringan dengan bergantinya lembar yang tengah terbaca.

Seperti itu lah aku menjalani hidup, seperti sosok yang selalu hadir presensinya meski tak dibutuhkan untuk kepentingan jalannya cerita sang tokoh utama, hadir cuma-cuma sebagai pengiring yang melengkapi dunia.

Aku tidak bisa apa-apa, bakat atau keahlian yang nanggung pun tidak ada. Tiap malam, kerjaanku cuma menyapu kamar kos saja, lalu tidur seolah hari ini bukan apa-apa, mengabaikan tentang hari esok yang belum terbingkai tujuannya. Mungkin, kalau jadi makhluk lain, wujudku adalah butir pasir gurun sahara milik tanah Timur Tengah yang ada di tengah Saudi Arabia; semua orang melihat, tetapi tidak ada yang benar-benar tahu dan memahami.

Atau bisa jadi juga, tidak.

Bisa jadi takdirku adalah menjadi apa-apa, tetapi aku tak berkenan membuka peluang nasibku sendiri. Bisa jadi aku terpaku oleh apa-apa yang pernah menghambat jalur hidupku, terbuai oleh pelik dan tertinggalnya diriku di masa lalu, ragu-ragu untuk maju. Bisa jadi analogiku soal gurun pasir sahara cuma pembelaan agar aku bisa terus menenun remah-remah luka di telapak tanganku, melempar jauh pelipur luka yang datang hendak mengobati segala perihku. Bisa jadi aku tak ingin sejahtera menjabat tanganku.

Carol Ryff punya teori menarik perihal jiwa manusia yang sejahtera, dibangun atas enam dimensi utama—yang lantas kupertanyakan apakah aku telah memenuhi seluruhnya? Dosenku, Bu Okta, meminta kami mengingat perlahan emosi bahagia yang didapat dari dua jam lalu, lantas berjalan mundur menuju dua hari, dua pekan, dua bulan, dua tahun, hingga sejak ingatan pertamaku soal dunia. Kukira ada banyak yang kumiliki, tetapi seperti apakah emosi bahagia yang sebenarnya ia minta untuk aku ingat kembali?

Naiknya usia memberi banyak realita bahwa aku bukan apa-apa. Ironisnya, merasa bukan apa-apa berarti aku tidak menerima diriku sebagaimana adanya, dan hal itu berarti kesejahteraan jiwaku telah rumpang salah satu dimensinya, memenuhi syarat bahwa aku sebetulnya tak baik-baik saja. Ingin kutanyakan langsung kepada Carol Ryff, seberapa bahagia apa dia sehingga bisa mencetuskan teori semacam ini, atau seberapa jatuh dan menderita nya ia sehingga punya waktu untuk memikirkan apa saja yang tak ia miliki. Sebab kurasa, seringkali orang yang sakit hati menemukan serangkai kalimat yang cukup baik untuk melindungi diri, Carol Ryff mungkin pernah merasakan relung hatinya terlukai.

Aku tak mengerti bagaimana hidup seharusnya berjalan, seperti apa masa depan yang aku harapkan, dan sampai mana aku dapat menilai diriku sendiri tanpa perlu memilih AI sebagai konsultan. Seberapa baik aku memanusiakan diriku sendiri, hingga jejemariku hanya dapat merengkuh sepasang pundak yang telah lama memangku sepi dan sedih tanpa henti, tak mencapai relung hatiku yang barangkali telah lama mati, sampai-sampai aku memohon seseorang akan menoleh kepadaku dengan penuh kasih dan aku merasa tercukupi. Dan lagi, kenapa aku harus membutuhkan seseorang lainnya ketika aku sendiri tak bisa mencari kehidupan dalam sorot mataku setiap pagi?

Kepalaku dipenuhi bait-bait yang tak jelas bentuknya, tak terbaca oleh netra, kalbu, dan kepala. Berapa lama jiwaku meninggalkan diriku sebatang kara, luntang-lantung menjalani kehidupan tanpa tahu kini sedang berjalan untuk apa? Berapa lama aku meraba-raba jalan yang kulewati hingga kutemukan cahaya yang nanti nya menoleh kepadaku, bertanya apa aku baik saja dan boleh kah ia menemaniku hingga kami berdua terjatuh ke dalam keabadian milik dunia yang tidak kumiliki maknanya? Tetapi, kenapa harus kutemukan cahaya untuk menemaniku ketika aku sendiri enggan menggamit lenganku agar kami melewati pahit manis bersama?

Aku tidak butuh menjadi pemeran utama. Bahkan dalam hidupku sendiri, lalu lalang yang menjadi tokoh utamanya, aku cuma mengisi peranan penuh dalam lalu lalang yang hadir dalam tiap kesempatan yang kupunya. Tetapi, bisakah percepatan lalu lalang tak membuahi hampa? Bisakah aku kembali bangkit kala tubuhku telah tertunduk sedari semula? Bisakah aku menemukan sorot kehidupan seiringan dengan matahari pagi menyapa? Bisakah judul tulisan ini terganti dengan kalimat bahwa aku telah berhasil menyapu bersih kepingan porak poranda yang patah sebagaimana kamar kosku senantiasa terjaga dari debu dan pasir setiap harinya?

aku gatau mau nulis apa lagi, udah nangis duluan hahahahah, sekarang 15 september 2026. hopefully you be better soon, you did very well, lea ♡