Mungkin ini pertama kalinya, lagi usai sekian lama—kesepian mendera. Aku tidak pernah menyangka, kalau sewaktu-waktu, aku akan kembali merasa sendirian, terkucil dari serangkaian teman yang hidupnya saling bertautan. Semua orang maju berjalan, aku menatap lamat pergerakan mereka bergantian, tak mengerti kenapa sewaktu-waktu dalam kejap mereka hilang seolah tertelan. Mataku mengerlip perlahan, “Oh, aku benar-benar sendirian.” Dan bayang-bayangku menampilkan Evelyna, kurasa kian kemari aku makin mirip dengannya, jarang menemukan momentum yang membuat jantungku berpacu mengudara. Sekelibat ingatan soal teman lama datang, merongrong kalbu agar bisa merasakan senang. Tetapi sepertinya tidak begitu, karena ini ketiga kalinya aku menangis di kota baru, yang jaraknya tak begitu jauh dari rumahku. Sudah lama sekali, aku jadi lebih mengerti kenapa anak-anak yang baru masuk pondok suka menangis ingin melihat rumahnya dengan kembali. Barangkali aku hanya perlu adaptasi, ini kan hal yang wajar sekali. Tidak mengapa untuk bersedih, sebab manusia diciptakan bukan untuk selalu menanggalkan perih.
Oh, iya, saban hari kudengar ada demo yang marak-marak menjamur di tiap bagian tepi. Aku rasa dunia juga sedang sedih. Soalnya, masyarakat menangis dan marah sekali, kala berita orang berbaju hijau dilindas dan menemui ujung hayat ramai diberitakan. Di Timur Tengah sana, pahlawan kita, pun, gugur satu lagi, meninggalkan tesisnya yang bicara soal pembebasan negeri. Hebat sekali, ia mulia bahkan pada saat ia dijemput mati. Kira-kira, berapa banyak tangis yang terbayar untuk perjuangan yang belum ia dapatkan? Kan, aku benar, dunia juga sedang sedih. Rumahku juga dilanda sedih, Papa demam sejak pagi tadi. Biasanya, kalau suhu tubuh sangat tinggi, menangis tiba-tiba saja datang dengan tiada arti. Semoga lekas membaik, Papa, dan negeri.
Semuanya menangis.
Taman asrama jadi tempatku menggaungkan keluh dan kesal pada pualam, ditemani Bumi Manusia-nya Pak Pram. Indah sekali isi kepalanya—aku juga mau jadi orang hebat seperti dia. Kira-kira, dia pernah menangis, tidak, ya? Apa dia pernah bersungut-sungut karena merasa terkucilkan? Karena, kan, Pak Pram pernah dijerujikan. Mungkin Bumi Manusia itu hasil tangisannya. Mungkin tangisannya bentuknya tulisan.
Sekali lagi, semuanya menangis.