Mungkah Lawang; gerakan tari yang menjadi pembuka dari tarian, seperti pada tari Legong Keraton, dengan makna "membuka pintu" atau permulaan.
Ini pekan ke-tiga, sudah ada kemajuan syukurnya. Aku tidak lagi merasa kesepian, barangkali terkadang—alih-alih membiarkan perasaan kesepian itu datang, aku mencoba memberi penekanan bahwa setiap orang memang punya kesibukan, dan ketika aku memohon pada mereka untuk memberi waktu luang, kesibukan mereka bukan masalah dan justru aku lah yang egois dan tidak pengertian. Iya, seharusnya begitu.
Aku suka waktu-waktu di mana teman sekamarku bersenda gurau dan tidak dilanda kesulitan, karena kami akan punya ruang untuk saling berbagi cerita perihal apa-apa yang telah terjadi pada kami seluruhnya, sesuatu seperti, katanya ‘hidup mahasiswa’, tapi kami merasa mahasiswa membuat kami tidak menjalani kehidupan dengan normal. Gila. Apalagi dewasa, ya.
Aku juga suka hari-hari di mana Kiya tidak terlalu sibuk, jadi kami bisa makan siang bersama, kendati cuma warteg dekat FEB, ayam kremes depan gedung fakultas kami, atau makanan-makanan lain yang tak bernilai hingga dua puluh ribuan. Aku suka naik di motor Kiya, walau dia kalau bawa motor sukanya ngebut-ngebutan, seperti orang dikejar anjing liar atau setan gentayangan.
Aku juga suka saat Zayyan bertanya apakah aku sibuk untuk mengajakku bergabung dalam panggilan video bersama Fiddin, Hafshah, dan Afifah. Atau Hashifah, HC, Najwa, Evelyna, dan yang lainnya ketika menghubungiku lewat ponsel orang lain di pondok. Aku merasa diingat dan dekat.
Aku juga suka saat Kak Barik membalas pesanku dengan cepat, meski biasanya aku enggan memperpanjang chat, soalnya dia sedang beristirahat. Atau Kak Azizi ketika menjelaskan materi kepadaku dengan lebar dan sabar, meski rasanya barangkali aku terkesan bodoh dan tidak berpengetahuan seperti anak-anak yang tiap pergi sekolah sering telat dan hobinya nongkrong di selasar.
Aku senang karena aku sudah bisa menerima proses adaptasi di tempat yang tanahnya berjarak dua jam dari rumah Mama dan Papa, alih-alih dengan dapat merasakan nyaman setiap saat, malah merasa senang ketika ada yang berusaha menghubungiku. Memasuki gerbang fakultas Psikologi adalah mungkah lawangnya tubuhku, merasa tertinggal dengan langkah tertatih untuk mengejar, merasa berharga ketika diberi afeksi sekecil bebatuan kerikil Karang Anyar, dan merasa bahwa gerai sayang dan penuh dukung keluarga serta orang-orang terdekatku di sana adalah pilar.