Aku senang mendengar kekhawatiran mereka yang memuncak. Rasanya, ulang-ulang saja terus sebab aku tak akan merasa bosan. “Nanti, jaga pergaulan, ya. Pandai-pandai pilih teman. Kami bukannya enggak percaya sama kamu, tapi yang namanya kesempatan kadang-kadang bisa kamu ikuti karena kamu masih remaja yang suka penasaran.”

Tidak ada yang salah dengan kalimat mereka, makanya aku senang mendengarkan. Banyak-banyak, kalau bisa. Kuperhatikan bagaimana orang-orang yang nantinya tinggal satu lingkup di sekitarku; cara menutur, cara mengetik, cara menanggapi. Baru satu kali, tetapi hadir eksistensi bersikap yang mengusik hati.

Kusampaikan pada Kak Tival, dia katakan, “Karena kamu yang pilih tempat itu, kamu harus belajar menyesuaikan, tapi bukan berarti meniru, ya. Soalnya, menutup aurat itu wajib. Di saat-saat sulit kayak gitu, di situlah pentingnya pengaruh iman. Kuat mempertahankan jati diri itu perlu.” Jawabannya keren. Aku suka. Menurutku, useful*.***

Kuceritakan pula hal serupa pada kakakku —Kak Puteri—, katanya, ada bagusnya juga diam. Mempertahankan citra diri sendiri tak ada salahnya, abaikan saja apa yang ternyata salah penilaian dari diri kita. Nanti, juga akan bertemu teman-teman satu frekuensi.

Teman-teman yang baik, yang menerima dirimu apa adanya.

Belum tiba masanya aku memasuki bagan baru perjalanan, namun aku tahu kalau akan ada sesuatu besar yang sebelumnya tak pernah kutemukan. Aku akan kembali seperti enam tahun lalu, memasuki fase di mana segalanya terasa baru. Dan pada masa-masa sulit ini, tak ada yang bisa membantu kecuali Tuhan dan adrenalin yang kita miliki sendiri.

(٥) فَاِنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ يُسۡرًا

“Maka sesungguhnya, bersama kesulitan pasti ada kemudahan.”

Dan janji Tuhan-Mu tidak akan pernah menyalahimu. Sesungguhnya, Rasulullah apabila ditimpa keadaan genting dan dirayapi gelisah, beliau bersabar dan terus melanjutkan upaya *ikhtiar-*nya yang senantiasa diiringi tawakkal.

Di tengah keresahan yang datang menerpa relung kalbu manusia, ayat ini seolah-olah datang membawa asa, meyakinkan hamba untuk berserah pada putusan Tuhan-Nya. Maka, janji manalagi yang lebih dapat dipercaya selain yang telah termaktub dalam kitab yang diakui keabsahannya oleh setiap penjuru angkasa?