28 mei jadi hari bersejarah yang membuat seluruh tubuhku gemetaran dan napasku tersengal—aku menangis. Pukul tiga sore waktu Indonesia barat, aku berteriak-teriak bak orang kesetanan dan banyak teman-teman yang menghampiriku. Mereka memelukku, memberiku ucapan selamat atas lolosnya aku di UIN Jakarta, jurusan psikologi.
Sehari sebelum pengumuman, Kak Puteri menawarkan bantuan untuk membuka hasil pengumumanku, mungkin dia takut aku tak kuasa membuka hasilnya. Hari itu, kusetujui tawarannya dan berterima kasih banyak pasca memberinya nomor peserta beserta tanggal lahirku. Aku tidak merasakan apa-apa. Tidak dengan kekhawatiran, tidak dengan keyakinan bahwa aku akan lolos, tidak pula ketakutan. Aku benar-benar biasa saja. Hingga pagi esok hari tiba dan aku mulai merasa ada yang mengganjal dalam lubuk hatiku—seharusnya aku sudah mengerti bahwa perasaan semacam itu pasti akan tetap ada.
Menjelang pukul tiga sore, aku masih menjalani bimbel online bahasa Arab yang tengah berlangsung. Sesekali kuganti layar yang menampilkan materi dengan countdown pengumuman UTBK. Sisa beberapa menit lagi, dan yang kuharapkan cuma semoga aku tidak diberi kecewa terhadap apapun hasil yang nantinya aku terima.
Satu menit lima puluh tujuh detik.
Satu menit dua puluh tiga detik.
Satu menit.
Lima puluh lima detik.
Tiga puluh detik.
Dua detik.
Nol. Dan situsnya langsung mengarah pada laman web pengumuman. Aku mengetik nomor peserta diikuti tanggal lahirku. Usai melihat hasil, ada jeda yang kuambil untuk mencerna. Ini akun punya siapa yang kubuka? Situsnya error kah? Kenapa ada barcode muncul? Hingga aku menggulir layar ke bawah secara perlahan, kudapati keterangan semacam;

Lalu, segala hal yang kujelaskan pada paragraf pertama terjadi. Disusul dengan Kak Puteri yang menelepon dan terkekeh melihatku menangis, dia bertanya, “Udah lihat hasilnya?” sambil senantiasa terkikik mendapatiku menangis. Aku mengangguk dan tersengal-sengal menjawab sudah. Ia mengucap selamat, tak lama kami memutus sambungan telepon.
Teman-temanku meminta untuk segera menghubungi Papa Mama. Alhasil, kutelepon mereka. Nomor Mama tak aktif, sementara nomor Papa terangkat namun jawabnya adalah berupa, “Ini paket siapa, Sa, kok dikirim ke rumah?” dan seiring aku memaksa Papa melihat pesan yang kukirim, Papa memberi putusan, “Ya sudah nanti Papa lihat, ini ada tukang paket datang lagi.”
Alhasil, mereka belum tahu kabar tersebut. Aku lalu mengabari ibuku dan ibu bilang kalau dirinya menangis melihat berita itu. Katanya Allah maha baik karena berkenan membantu hamba-Nya yang fakir ilmu ini. Dan ucapannya tak salah sama sekali. Cukup lama kami berbincang, panggilan dari Papa masuk. Aku yang tadinya tak lagi menangis, kembali meneteskan air mata dan sesenggukan kala Mama mengucap selamat dan memintaku untuk mencari tahu bagaimana cara registrasi ulang.
Papa mengalihkan panggilan tersebut menjadi panggilan video. Terdengar suara Mama, “Nak, lanjutin aja. Cari tau cara daftar nya gimana, berkas-berkasnya biar Mama yang urus langsung hari in,” aku menggumam tergagap, “Boleh, Ma?” Dan Mama menjawab, “Boleh, dong. Berarti udah takdirnya Nisa keterima di situ.”
Sontak, tangisku membuncah memenuhi seluruh wajah, dengan napas tersengal-sengal aku menangis, menatap wajah Papa yang cuma diam memerhatikanku menangis. “PAPA KENAPA CUMA NGELIATIN DOANG?????” aku memekik. Kulihat, lelaki paruh baya itu mengusap matanya dengan cepat. Aku tahu dia menangis.
Ini hari kedua setelah pengumuman UTBK-SNBT yang mencantumkan keterangan lolos atas nama lengkapku. Bersama Bang Ali dan Mbak Fika, kami mengunjungi UIN Jakarta untuk cari tahu seputar kos-kosan di sana. Kala maghrib tiba, kami makan di Nasi Kebuli Rasa Sultan yang terletak di depan gedung universitas. Seraya makan, benakku melayang ke belakang. Tepat pada satu hari lalu, pada saat seluruh tubuhku gemetar hebat dan aku menangis sesenggukan. Bahkan pada hari ini, hari kedua aku dinyatakan menjadi calon mahasiswi baru, aku masih suka menatap laman yang menyatakan namaku lolos di UIN Jakarta.
Aku menerawang gedung kampus tersebut. Ternyata dia yang menerimaku. Bukan LIPIA, bukan Sekolah Tinggi Dirasat Islamiyah yang kujadikan target utama. Jika waktu bisa membawa masa kini menjamah masa sebelumnya, aku ingin menghampiri diriku saat berusia kelas enam SD. Akan kuajak dia berkenalan dan kuberitahu padanya, supaya dia jangan takut bermimpi, supaya dia tidak merasa bahwa dirinya adalah makhluk bodoh di muka bumi. Kalau bisa, aku mau beri hadiah. Tanda terima kasih padanya karena telah punya impian untuk jadi psikolog kendati mimpi tersebut terkubur untuk lima tahun berikutnya.
Lea, Allah kabulkan impianmu saat kecil dulu. Inner child yang berhasil terobati dengan kerja tangan Tuhannya jin dan manusia.