Ditulis oleh, Lea.
Kampus yang jadi tujuan utamaku itu STDIIS (Sekolah Tinggi Dirasat Islamiah Imam Syafi’i), kampus sunnah impianku sejak lama. Tapi kenyataannya, qadaarullah aku hanya lolos tes tulis, dan harus gugur di tahap wawancara. Aneh ya, tapi aku tak merasa terluka. Barangkali sebab aku sadar diri saja, bahwa potensiku memang belum sampai ke sana. Tapi karena dorongan orang tua, maka aku tetap mencoba.
Aku juga mencoba daftar ke LIPIA. Siapa sangka ternyata aku lolos seleksi berkasnya. Masalahnya, aku tak punya persiapan apa-apa. Jadi ketika tes tulis dimulai, aku cuma mengandalkan sisa pengetahuan yang kupunya. Akhirnya aku gagal juga. Yang ini sempat mendatangkan sesak beberapa menit saja. Tapi rasa sedihnya tertutup oleh rasa bahagia, karena temanku justru berhasil lolos tes tulisnya. Aku tahu dia telah banyak berusaha, oleh karenanya harapku jauh lebih besar untuk dia bisa melewati wawancaranya.
Sebagaimana yang telah aku sebutkan pada bagian sebelumnya—hal yang paling tidak aku sesali adalah ikut SNBT-UTBK. Aku kebagian jadwal tes di hari-hari terakhir, tanggal 3 mei. Harapanku lolos lebih kecil daripada di dua kampus sebelumnya, tujuan akhir SNBT-UTBK yang aku ikuti adalah bagaimana caranya supaya aku punya skor yang tak mengecewakanku. Sesuai harapan orang yang persiapan ala-kadarnya.
Aku bahkan punya stok kampus swasta yang kujadikan pilihan untuk mendaftar. Berhari-hari kuhabiskan waktu untuk memikirkan, sekiranya mana kampus yang mau menerima aku jadi mahasiswi mereka cuma untuk melihat orang tuaku tentram, tidak khawatir perihal anaknya bakal menjumpai masa gap year.
Kalau alasan orang lain menangis adalah takut ditolak kampus impiannya, alasanku menangis adalah takut ditolak kampus mana pun—aku benar-benar enggak punya impian. Impian-impian besar selayaknya teman sebaya, rasanya aku tak punya. Jadi, yang kukejar adalah hal-hal yang sekiranya mampu untuk dijadikan target.
Masuk kuliah, biar tidak jadi beban orang tua. Tidak masuk kuliah, mampus lah aku, pupus lah asa ayah-ibu.
Jadi, kampus mana yang mau menerima aku sebagai mahasiswinya?